Zakat Mal

Pada seminar pembahasan Zakat yang saya ikuti beberapa waktu lalu, terdapat beberapa point yang mungkin luput dalam pelaksanaan zakat mal kita selama ini dan sudah sepatutnya untuk menjadi perhatian ke depannya. Beberapa hal yang bisa menjadi catatan di antaranya adalah pentingnya dalam mengetahui kriteria dan jenis harta yang wajib dizakatkan.

Harta secara umum dapat dibagi ke 3 jenis ;

  1. Pendapatan (gaji, atau hasil perniagaan, termasuk aset yang menghasilkan seperti mobil sewaan atau rumah kontrakan)
  2. Konsumsi (sejumlah harta yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi si wajib zakat, termasuk aset yang dikonsumsi sendiri atau tidak diniagakan)
  3. Simpanan (harta simpanan baik dalam bentuk uang maupun benda berharga seperti emas)

Dari ke 3 jenis di atas, Pendapatan dan Simpanan termasuk jenis harta yang wajib dihitung zakatnya bagi si wajib zakat apabila telah cukup saratnya. Ini satu hal yang menjadi catatan saya, dan mungkin sebagian orang juga, yang selama ini luput menghitung nilai dari harta jenis Simpanan sebagai bagian dalam perhitungan kewajiban zakat mal.

Zakat

 

Sarat (nisab) dan tata hitungan dari setiap harta yang termasuk ke dalam jenis harta yang wajib dizakatkan ini berbeda-beda antara satu dan lainnya. Namun secara umum sarat dan perhitungan zakat dapat diuraikan sebagai berikut ;

  1. Kepemilikan penuh. Maksudnya harta tersebut memang halal dimiliki secara penuh oleh si wajib zakat. Sehingga walaupun nilainya cukup, namun apabila suatu harta tidak dimiliki secara penuh oleh si wajib zakat, maka harta tersebut tidak termasuk dalam perhitungan zakat. Yang menjadi catatan di sini adalah apabila sejumlah harta didapat dari hasil korupsi atau jenis kegiatan apapun yang pada hakikatnya adalah bukan hak milik penuh dari si wajib zakat, walaupun cukup nisabnya, harta tersebut tidak dimasukkan ke dalam perhitungan zakat dan akan menjadi salah apabila dimasukkan ke dalam perhitungan zakat.
  2. Berpotensi berkembang. Ini seperti disebutkan di atas pada pembahasan jenis harta, dimana jenis harta yang termasuk dalam perhitungan zakat adalah jenis Pendapatan dan Simpanan yang sifatnya dapat berkembang nilainya apabila dikelola. 
  3. Bebas hutang konsumtif yang jatuh tempo.
  4. Mencapai nisab. Nilai nisab, batasan jumlah/nilai suatu harta jatuh hukum wajib nya untuk dizakatkan, berbeda-beda di antara jenis-jenis harta yang masuk dalam kategori zakat. Di antaranya adalah 85 gram untuk harta emas 24 karat, 520 kg beras untuk hasil kebun/pertanian, dan nisab-nisab lain untuk jenis-jenis harta yang lain pula seperti gaji, rampasan perang dan lainnya.
  5. Dimiliki selama 1 tahun. Ini ketentuan yang mengatur bahwa hanya harta yang dimiliki minimal selama 1 tahun lah jatuh hukumnya wajib dikeluarkan zakat & dapat dapat dihitung zakatnya.
  6. Melebihi kebutuhan pokok. Harta yang wajib dizakatkan hendaknya pula telah melebihi kebutuhan pokok dari si wajib zakat. Dalam hal ini uang saku seorang istri yang diberikan oleh suami nya apabila telah melebihi kebutuhan pokok, sesuai sarat dan mencapai nisabnya, juga wajib untuk dikeluarkan zakatnya.

 

Mengingat cukup luasnya tata aturan zakat ini, dibutuhkan ketelitian bagi si wajib zakat dalam mengidentifikasi dan menghitung harta-hartanya yang mana yang wajib dikeluarkan zakatnya. Jadi tidak hanya sebatas zakat dari hasil pendapatan bulanan senilai 2,5% dari gaji bulanan yang mungkin baru sebatas itu selama ini umum dilakukan. Untuk itulah jasa amil zakat dalam hal ini dibutuhkan dalam membantu si wajib zakat dalam mengidentikasi dan menghitungnya. Dan hendaknya menjadi perhatian pula bagi para amil zakat untuk dapat mengetahui sarat dan tata perhitungan zakat secara cermat sehingga benar dalam menjalankan tugasnya. Hal ini juga menjadi catatan saya yang selama ini beranggapan tugas dari amil zakat hanya sebatas collection & distribusi zakat dari si wajib zakat kepada si penerima manfaat zakat yang ternyata lebih dari itu, yaitu bertugas membantu melakukan identifikasi dan perhitungan zakat nya itu sendiri.

 

Salah satu referensi mengenai pertanyaan seputar zakat dapat dilihat pada post berikut ini http://orangbodoh.multiply.com/journal/item/35

 

Hal yang menarik lainnya dalam seminar tersebut adalah pembahasan dalam kita memandang ibadah zakat tersebut. Zakat, bukan untuk kaum miskin, dhuafa dan lainnya seperti yang mungkin umum ada di benak kita. Zakat, adalah untuk si wajib zakat sebagai bentuk ibadah dan langkah dalam membersihkan hartanya dari hak-hak orang lain yang dititipkan ke dalam harta si wajib zakat tersebut. Sementara kaum miskin & dhuafa dapat dipandang sebagai golongan penerima manfaat dari zakat yang dikeluarkan si wajib zakat. 

 

Pembahasan zakat sangat luas, terutama yang perlu menjadi catatan kita adalah tata aturan, nisab dan perhitungannya. Sehingga menjadi kewajiban bagi para wajib zakat lah untuk mempelajarinya, agar ibadah zakat yang dikeluarkan sesuai ketentuan dan tidak ada yang menjadi luput dalam perhitungan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s